The 1st Left Door – The Fall of the Olympus

Anda telah membuka pintu ruang KIRI pertama. Sejenak setelah Anda melongokkan kepala dan memasuki ruang baru ini, Anda mungkin terheran-heran dengan satu properti mencolok di tengah ruangan.

Ada sebuah meja kayu besar di sana. Setinggi kira-kira pinggang Anda. Di atasnya, terdapat sebuah miniatur gunung dan pulau yang memenuhi keseluruhan permukaan meja. Tinggi miniatur gunung itu kira-kira sampai ke dagu Anda. Diameter pulaunya sendiri kira-kira selebar tiga sampai empat langkah kaki Anda. Di puncak gunung yang letaknya tepat di tengah-tengah pulau itu, terdapat sebuah istana megah dengan pilar-pilar putih yang nampak indah. Dan tentu saja, ada beberapa sosok patung-patung kecil berwarna emas dan berpakaian bagus di dalam istana itu. Ada lebih dari selusin patung yang nampak di sana.

Jauh di kaki gunung itu sendiri ada sebuah diorama kota. Sekumpulan patung manusia kecil berwarna abu-abu yang ada di kota itu tampak tengah memuja dan menengadahkan tangan mereka ke arah gunung. Di gunung itu sendiri, ternyata ada satu ukiran kata yang cukup besar dan bisa Anda baca dengan mudah sebagai penonton: OLYMPUS.

Ah, Anda mungkin kini sudah paham.

Gunung tinggi menjulang ini adalah Gunung Olympus, dan sosok-sosok yang menghuni istana di atasnya tak lain adalah Zeus dan saudara-saudarinya.

Tapi, tunggu.

Saat Anda melongokkan kepala Anda ke arah bawah kembali, ke arah kota yang dipenuhi kumpulan patung manusia kecil abu-abu, ada satu sosok patung berwarna putih yang berposisi agak menjauh dari kerumunan patung yang lain.

Patung putih itu menghadap Anda, seolah ingin memberi tahu Anda sesuatu. Kedua tangan patung putih itu membawa sebuah gulungan kertas yang terlihat terlalu besar untuk ukuran sang patung, tapi sangat pas untuk ukuran kita manusia normal.

Anda pun menyadari bahwa itulah lembar catatan yang dimiliki oleh ruangan ini. Anda mengambil kertas itu, membuka gulungannya, dan mulai membaca tulisan yang terketik rapi di dalamnya…

***

The Gods of the Olympus

Di kisaran abad ke 8 Sebelum Masehi, masyarakat Yunani hidup dengan menyembah Dewa-Dewi.

Zeus adalah dewa tertinggi di tataran sistem ini. Sebagai dewa tertinggi, dia adalah ‘Yang Maha Kuasa’ atas langit, cuaca, dan pemegang sah kekuatan Petir. Di bawahnya, ada Poseidon, yang berkuasa atas Lautan Bumi. Di bawahnya lagi, ada Hades yang berkuasa penuh atas Dunia Bawah Tanah -dunianya orang mati dan para arwah.

Berikutnya ada Dewi Hera sang Dewi Pernikahan, ada Ares sang Dewa Perang, Hermes sang Dewa Perdagangan, Hephaestus sang Dewa Api dan Penempa Besi, Aphrodite sang Dewi Cinta dan Keindahan, Athena sang Dewi Kebijaksanaan dan Pengetahuan, Apollo sang Dewa Musik dan Cahaya, Artemis -kembaran Apollo- sang Dewi Bulan dan Kesucian, dan Hestia sang Dewi Pelindung Rumah dan Keluarga.

Ke-12 Dewa-Dewi tersebut, bersama dengan dewa-dewi lain yang berpangkat lebih rendah, dipercaya oleh masyarakat Yunani Kuno hidup di atas Gunung Olympus (minus Hades tentunya karena dia sudah diberi ‘bagian’ menguasai Dunia Bawah Tanah). Semua dewa-dewi itu mengawasi kehidupan masyarakat di Bumi, sambil sesekali ‘turun gunung’ untuk menyamar dan melakukan berbagai hal di dunia manusia.

The Fall of the Olympus

Bagi masyarakat modern seperti kita, rasanya agak membingungkan bagaimana Dewa-Dewi Olympus itu bisa disembah. Dewa-Dewi itu terasa mirip sekali dengan kita, Manusia, dengan segala tetek bengek drama dan perasaan emosional mereka. Contoh sajalah: Hera, sang Dewi Pernikahan, adalah istri Zeus. Namun sejatinya, dia juga adalah saudari Zeus! Hera sendiri awalnya tidak mau diperistri Zeus. Sayangnya, Zeus tetap ngotot, ia membuat sebuah tipu muslihat, lalu memperkosa Hera hingga Hera pun mau menjadi istrinya.

Mendengar cerita ini, mungkin kita bertanya-tanya: Dewa-Dewi Olympus ini sedang shooting sinetron ya?

Banyak sekali drama lain dalam kisah kehidupan Dewa-Dewi Olympus ini. Kisah-kisah mereka terangkum dalam catatan Homer dan Hesiod – keduanya adalah penulis kisah Dewa-Dewi Olympus terbaik. Walaupun ‘drama’-nya terasa sangat manusiawi, kenyataannya kisah-kisah itu dipercaya oleh masyarakat Yunani Kuno. Atau, mungkinkah kisah-kisah itu justru dipercaya karena terasa sangat dekat dan ‘tidak asing’ bagi masyarakat kala itu?

Oke, cukup, tak perlu bercerita terlalu jauh, karena ada satu titik permulaan di mana ada sekelompok Manusia yang juga mulai skeptis dengan keberadaan Dewa-Dewi Olympus ini. Mari kita mulai dari Thales.

Thales from Miletus (624-546 BC)

Miletus adalah sebuah koloni Yunani di Asia Kecil. Di tempat inilah para filsuf alam pertama dari Yunani mulai bergeliat keluar dari mitos lama. Pioner dari semua itu adalah Thales.

Thales semasa hidup sering sekali berkelana, salah satunya berlayar ke Mesir. Di Mesir, Thales mempelajari ilmu ukur. Dikatakan, dia pernah menghitung tinggi sebuah piramida hanya dengan menggunakan bayangannya saja. Dia juga dikisahkan pernah meramalkan secara tepat terjadinya gerhana matahari pada tahun 585 SM. Ramalan ini menjadi sangat terkenal karena menjadi titik penutup perang antara bangsa Medes dan Lydia di sungai Halys. Thales, menggunakan rasionalitas akalnya untuk berpikir.

Pola pikir berdasarkan rasionalitas ini pada akhirnya membuahkan satu filsafat terkenal dari Thales: menurut Thales, segala sesuatu pasti memiliki permulaan. Dibandingkan dengan mempercayai takhayul kuno atas mitos Dewa-Dewi Olympus, Thales lebih mengutamakan pengamatan akan alam. Dan, dia menaruh perhatiannya pada air.

Thales berpendapat, air adalah bahan dasar segala sesuatu. Kehidupan pun bermula dari air. Hal ini mungkin buah dari hasil pengamatannya di Sungai Nil. Pada delta Sungai Nil, nampak tanaman tumbuh subur dan muncul dari atas tanah setelah dibasahi oleh air sungai. Katak dan cacing pun juga muncul dari hasil tanah yang berlumpur. Dari sanalah kemungkinan, dia menyandarkan pemikiran filosofisnya akan air.

Kegiatan Thales untuk keluar dari pola pikir mitos menuju ke pengamatan alam ini disebut-sebut sebagai kegiatan berfilsafat pertama di Yunani khususnya, dan di dunia barat pada umumnya. Aristoteles menjulukinya sebagai ‘filsuf yang pertama’. Hampir semua filsuf alam sesudahnya mengikuti corak pikir Thales ini: meninggalkan mitos dan memegang teguh prinsip rasionalitas didasarkan pengamatan terhadap alam (karena itulah mereka disebut dengan istilah ‘filsuf alam’).

Walaupun jika dilihat dari sudut pandang kita sebagai manusia modern penemuan Thales terasa ‘masih salah’, kenyataannya ini adalah pijakan besar pertama dalam dunia filsafat barat.

Anaximander (610-546 BC) and Anaximenes (585-528 BC)

Anaximander juga berasal dari Miletus.

Beberapa pendapat menyebutkan bahwa ia adalah murid dari Thales (walaupun sejatinya pendapat ini masih diperdebatkan). Menyempurnakan ajaran Thales, Anaximander mencetuskan satu istilah umum untuk ‘permulaan dari segala sesuatu’, yakni: Arche.

Dalam hal memikirkan Arche (substansi dasar atau permulaan dari segala sesuatu), Anaximander mempunyai corak pemikiran sendiri yang agak berbeda dari Thales. Dia tidak memilih benda yang elemental seperti air. Dia mencetuskan postulat Apeiron: sebuah substansi tak terbatas yang mana dari substansi itulah segala sesuatu bermula dan terbentuk. Jika kita tarik garik lurus dengan ilmu modern, apa yang dipikirkan oleh Anaximander cukup masuk akal: Air bukanlah substansi dasar. Air terbentuk dari ‘pecahan-pecahan’ substansi lain yang memang untuk kacamata masa itu masihlah belum bisa didefinisikan dan mungkin ‘tak terbatas’. Apeiron sendiri bermakna ‘tak terbatas’.

Berikutnya ada Anaximenes.

Filsuf satu ini juga berasal dari Miletus. Menarik garis lurus dari pemikiran Thales dan Anaximander, Anaximenes pun punya hasil pengamatannya sendiri. Dibandingkan dengan Anaximander yang agak ‘membingungkan’, Anaximenes kembali ke jalur yang sama dengan Thales: substansi dasar pembentukan kehidupan bersifat elemental. Dan, perhatiannya jatuh pada udara.

Sebenarnya, Anaximenes mencoba menyatukan pendapat Thales dan Anaximander. Udara, bersifat cukup elemental dan ada di alam untuk diamati. Selain itu, jika dibandingkan dengan air, udara lebih dekat dengan sifat Apeiron-nya Anaximander yang ‘tak terbatas’. Udara juga selalu bertransformasi. Menurut Anaximenes, air adalah bentuk udara yang telah diperas. Tanah adalah bentuk udara yang mengental. Dan api adalah bentuk dari udara yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Udara selalu bertransformasi, dan dari transformasinya itulah bermacam-macam substansi lain terbentuk.

Thales, Anaximander, dan Anaximenes, kerap dijuluki sebagai ‘The Milesian’, karena ketiganya adalah para filsuf alam pertama yang berasal dari Miletus.

Xenophanes of Colophon (570-478 BC)

Xenophanes juga seorang pengelana yang hidup secara nomaden. Dia dilahirkan di Colophon, Semenanjung Anatolia, sekitar 80km dari Miletus. Selain di Yunani, dia sering sekali berlayar ke berbagai negara di Afrika seperti Ethiopia dan Mesir. Hal ini dilakukan karena dia miskin sekali, sehingga dia berpindah-pindah tempat tinggal untuk bertahan hidup.

Xenophanes disebut-sebut sebagai seorang yang gencar sekali mengkritik mitos Dewa-Dewi Olympus-nya Homer dan Hesiod. Secara frontal dia menyebutkan fakta bahwa Dewa-Dewi Olympus sangat mirip penggambarannya dengan bangsa Yunani -memiliki pakaian, bersuara, dan bertubuh layaknya mortal– adalah sebuah konsep yang salah. Dia menyindir, seandainya para binatang -hewan ternak, singa, dan sejenisnya- mampu menggambarkan Dewa-Dewinya, maka para hewan itupun pasti akan membuat gambaran Dewa-Dewi yang sama pula dengan ilustrasi diri para hewan itu.

Apa yang dilakukan oleh para masyarakat Yunani Kuno dengan kepercayaannya hanyalah sebentuk proyeksi yang memiliki unsur bias yang sangat besar. Saat Xenophanes berlayar ke Afrika, dia memperhatikan bahwa Bangsa Ethiopia memiliki Dewa-Dewi yang penggambarannya mirip sekali dengan bangsanya. Demikian pula bangsa Thracia. Dan yang paling terasa dilihat bahkan oleh kita masyarakat modern, adalah penggambaran Dewa Bangsa Mesir. Semua Dewa itu memiliki penggambaran yang sangat mirip dengan penampilan bangsanya!

Tidak mau terjebak dengan bias, Xenophanes sampai pada satu gagasan bahwa ‘Yang Tertinggi’ harusnya hanyalah satu. Satu yang Tertinggi ini tidaklah boleh memiliki sifat manusia, harus netral, dan bermartabat. Pemikiran Xenophanes ini menarik, karena memiliki kemiripan dengan monotheisme modern yang berkembang di era kita saat ini.

Untuk masalah ‘substansi dasar’ Xenophanes memiliki pendapat bahwa substansi dasar tidaklah hanya satu, melainkan dua yakni Tanah dan Air. Ini juga menarik. Dibandingkan mengekor pemikiran para filsuf alam sebelumnya, ia membuat satu dobrakan pemikiran bahwa Arche bisa jadi tidak hanya satu. Ini didasarkan atas pengamatannya terhadap alam juga dengan menyandarkan pada sifat basah dan kering: kombinasi dari basah dan keringlah yang menciptakan berbagai cuaca dan fenomena lain di alam.

Pythagoras (570-490 BC)

Nama yang satu ini mungkin sudah terkenal sekali. Terutama dalam pelajaran Matematika. Ya, Pythagoras memang lebih terkenal sebagai ahli matematika dibandingkan sebagai seorang filsuf. Meskipun begitu, semangat yang dia kobarkan sama: melakukan pengamatan terhadap alam dan meninggalkan mitos lama.

Sejatinya, sosok Pythagoras sedikit misterius dan (kemungkinan) eksentrik. Theorema Pythagoras -luas persegi sisi miring pada segitiga siku-siku  adalah sama dengan jumlah luas persegi di sisi bukan miring- sendiri tidak bisa dipastikan adalah benar-benar penemuannya ataukah dia mendapatkan ilmu itu dari Mesir. Pythagoras sendiri beberapa kali membangun Sekolah dan Perkumpulan, yang sayangnya, jika ada penemuan baru yang diciptakan dari perkumpulannya ini, semua penghargaan akan diberikan ke Sang Maha Guru dalam hal ini Pythagoras.

Terlepas dari segala hal kontroversialnya, Pythagoras jelas sudah menyumbangkan banyak hal dalam kemajuan sejarah Yunani Kuno. Kecintaannya pada angka bisa dibilang sudah mencapai level yang unik. Menurut Pythagoras, segala sesuatu di dunia fisik dapat dimengerti dan dijelaskan dengan angka. Selain itu, penganut paham Pythagorean juga percaya bahwa jiwa akan selalu mengalami perpindahan. Bukan hanya dari manusia ke manusia, tapi juga dari manusia ke hewan bahkan tanaman. Nantinya, pemikiran-pemikiran ini memiliki efek besar pada masa Plato dan Aristoteles.

Parmenides (515-450BC), Heraclitus (535-475BC), and Empedocles (490-430 BC)

Parmenides, Heraclitus, dan Empedocles adalah para filsuf yang memperhatikan masalah perubahan. Mereka tidak mengkhususkan pengamatan pada ‘substansi dasar’ layaknya para filsuf dari Miletus lagi, tapi membawa pemikiran lebih jauh tentang ‘bagaimana substansi dasar itu mengalami perubahan’. Mari kita bahas secara singkat satu per satu.

Parmenides berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada pasti sudah ada dari semenjak dahulu. Tidak ada satupun hal di alam ini yang mengalami perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi di alam, hanyalah efek semu dari persepsi indra yang tidak bisa dipercaya.

Rekan sejaman Parmenides, Heraclitus, memiliki pendapat yang bertentangan dengannya. Menurut Heraclitus, segala sesuatu mengalir dan selalu berubah. Perubahan secara terus menerus, atau aliran, sejatinya adalah ciri alam yang paling mendasar. Heraclitus mempercayai persepsi indra dan memegang teguh pengamatan dari hasil persepsi indra. Satu kalimat yang terkenal dari Heraclitus adalah “Tidak ada yang melangkah dua kali ke sungai yang sama”. Saat seseorang melangkah ke dalam sungai untuk kedua kalinya, maka orang itu, atau si sungai, atau keduanya telah mengalami perubahan.

Perdebatan Parmenides dan Heraclitus bisa jadi tidak menemui jalan keluar jika tidak ada Empedocles. Filsuf satu inilah yang mencoba menyatukan perbedaan pendapat kedua filsuf sebelumnya.

Menurut Empedocles, masing-masing pendapat Parmenides maupun Heraclitus memiliki kebenaran di satu sisi namun juga salah di sisi lain. Empedocles mencetuskan gagasan untuk membedakan “zat” dan “kekuatan”. Menurutnya, ada “zat” atau “unsur” yang memang tidak mengalami perubahan, sesuai pendapat Parmenides. Nah, “zat-zat” ini jika bergabung, akan membentuk “zat baru”, yang berarti “zat-zat” itu mengalami “perubahan terus menerus”, sesuai dengan pendapat Heraclitus. Perubahan zat-zat ini menggunakan “kekuatan”.

Perbandingannya adalah dengan lukisan. Kita tau bahwa ada warna primer dan warna sekunder. Warna sekunder, muncul dari hasil kita mencampurkan warna primer satu dengan warna primer lain. Kira-kira seperti itulah bentuk pemikiran Empedocles.

Satu yang patut dicatat, para filsuf pun bisa berdebat. Namun, selalu ada jalan tengah cerdik dari tiap-tiap perdebatan itu.

Anaxagoras (500-428 BC)

Anaxagoras sepakat dengan Empedocles bahwa bahan-bahan dasar tertentu mengalami perubahan secara terus menerus saat “bergabung”. Di saat bersamaan, bahan-bahan dasar tertentu itu juga selalu “tetap”, alias menjadi dirinya sendiri. Nah, tambahan dari Anaxagoras yang perlu dicatat adalah “bahan-bahan dasar” itu tercipta dari partikel-partikel sangat kecil yang tak dapat dilihat oleh mata dan jumlahnya tak terhingga. Tiap-tiap partikel kecil itu bisa dipecah menjadi partikel yang lebih kecil lagi. Begitu seterusnya sampai tak terhingga.

Pemikiran Anaxagoras ini sedikit sulit untuk dibayangkan, hingga sampai akhirnya dipecahkan oleh Democritus.

Democritus (460-370 BC)

Sampailah kita pada filsuf yang pemikirannya cukup menyumbang kemajuan besar bahkan sampai era modern ini.

Democritus setuju dengan pendapat pendahulunya bahwa perubahan-perubahan di alam terjadi sampai pada titik tingkat tertentu. Pada satu titik yang sangat kecil, pastilah ada balok-balok kecil tak kasat mata yang masing-masing kekal dan abadi. Democritus memberi nama balok-balok ini dengan istilah “atom”.

A-tom berarti “tak dapat dipotong”. Selain atom bersifat abadi, Democritus juga mencetuskan gagasan bahwa tiap-tiap atom memiliki kait dan mata kait. Dari hasil kait-mengkait itulah, ribuan atau bahkan jutaan atom membentuk subtansi lain yang lebih bisa dilihat oleh mata.

Di sini, kita melihat betapa jeniusnya pemikiran Democritus. Bahkan, penggunaan kata ‘atom’ pun masih dipakai hingga era Kimia Modern saat ini untuk menyebut ‘substansi dasar’. Kita bisa menyebutkan nama atom Helium, atom Natrium, dan jenis-jenis atom lain berkat pemikiran Democritus. Tapi tentu saja, kita tidak membahas pertikel elementer seperti Proton, Elektron, dan Neutron di sini karena itu masuk ke ranah pembahasan lain.

The Beginning of the (Greek) Philosophy

Tidak pernah ada kata mudah untuk keluar dari kebiasaan yang sudah terlanjur lama melekat. Apalagi kebiasaan itu sudah merasuk menjadi kegiatan sehari-hari yang bahkan cenderung menjadi doktrin.

Pun begitu dengan perjuangan para filsuf alam era pra-Socrates di atas. Atas dasar rasionalitas dan bukti empiris (dalam hal ini alam, bukan mitos), mereka memperjuangkan cara pikir baru. Mereka sering dicaci, disalahkan, bahkan diasingkan –meskipun beberapa dari mereka ada yang mendapatkan kedudukan terhormat di masyarakat karena dianggap bersumbangsih memajukan kota.

Salahkah mereka? Ya, mereka salah jika dilihat dari sudut pandang masyarakat kala itu (masyarakat Yunani yang sudah nyaman dengan pola pikir yang telah mereka pertahankan selama ratusan tahun). Namun, sebagai masyarakat modern, hal itu terserah Anda untuk menentukan.

Bagaimana pendapat Anda?

***

Anda telah selesai membaca catatan baru ini. Kini, Anda sudah menginjakkan pikiran Anda sedikit ke pintu filsafat. Meskipun baru gerbang luarnya, Anda mulai memahami bagaimana perjuangan filsafat untuk bisa bergolak dan menyadarkan pemikiran masyarakat Yunani Kuno.

Nama-nama filsuf yang baru Anda baca tadi mungkin menarik minat Anda, karena lembar catatan ini tidak menjelaskan dengan sangat detail tentang kehidupan mereka satu per satu. Anda mungkin tertarik untuk mencari tahu sendiri lebih dalam tentang mereka. Namun, bisa jadi juga sebaliknya, Anda tidak terlalu merasa perlu untuk mengenal mereka. Yang Anda pegang, adalah proses perjuangan mereka untuk keluar dari geliat mitos lama.

Apapun itu, pencarian Anda di ruangan ini telah usai. Anda menaruh kembali lembar catatan yang telah Anda baca ke tangan patung putih kecil yang tadi membawanya.

Kini, Anda menatap ke depan, dan menyadari, ada satu pintu di depan sana dengan tulisan KIRI di atasnya. Selain itu, nampak pula satu anak tangga menurun di sisi tembok kanan Anda dengan tulisan LANTAI BAWAH di atasnya.

Manakah jalan berikutnya yang akan Anda pilih?

KIRI                  BAWAH

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s